MITRA HUMAS | BIAK NUMFOR, 25 April 2026 – Dalam upaya memperkuat peran gereja sebagai agen transformasi sosial, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th., Ketua Badan Pekerja Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, melakukan kunjungan kerja ke lokasi rencana pembangunan Pusat Pemberdayaan Pemuda FGM (Forum Generasi Muda) GKI di wilayah Biak Numfor pada Jumat (25/4). Kunjungan ini menandai komitmen institusional Sinode dalam mendukung inisiatif generasi muda yang mengintegrasikan pelayanan spiritual, kewirausahaan, dan tanggung jawab sosial.
Lokasi seluas kurang lebih 4.000 meter persegi, yang merupakan aset milik PT Nirmala Jayakusuma dan sebelumnya tidak termanfaatkan selama 23 tahun, akan dikembangkan menjadi swalayan multifungsi melalui kolaborasi antara Forum Generasi Muda (FGM) GKI Wilayah Biak-Supiori dan Nirmala Group. Rencana pengembangan mencakup:
– Praktek dokter umum untuk pelayanan kesehatan masyarakat;
– Rumah percetakan dan baliho sebagai wadah kreativitas digital;
– Galeri kerajinan lokal untuk promosi produk budaya Papua;
– Kafe berbahan daur ulang kapal nelayan, sebagai simbol ekonomi sirkular;
– Rumah baca bagi anak-anak jalanan dan pelajar kurang mampu.
“Ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi wujud nyata bagaimana gereja hadir dalam menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan spiritual generasi muda,” ujar Pdt. Mofu.
Dalam jumpa pers usai peninjauan lokasi, Ketua Sinode menekankan bahwa pemberdayaan pemuda harus dimulai dari hal-hal konkret dan sederhana, namun berdampak luas. Ia menyambut baik inisiatif FGM yang tidak hanya fokus pada kegiatan liturgis, tetapi juga merespons realitas struktural seperti tingginya angka pengangguran pemuda dan keterbatasan lapangan kerja di daerah.
“Mari kita bangun dari hal kecil dengan niat baik—pasti diberkati,” tegasnya.
Kolaborasi ini juga mencerminkan pergeseran paradigma pelayanan gereja: dari model karitatif menuju pemberdayaan berkelanjutan. Sebagai lembaga keagamaan, GKI di Tanah Papua melalui FGM-nya secara eksplisit terlibat dalam isu-isu lintas sektor—politik, ekonomi, lingkungan, adat, dan keberlanjutan sumber daya alam—sebagaimana ditegaskan oleh Teri Sroyer, Ketua Karateker DPC FGM GKI Biak Numfor.
“FGM berbeda dengan PAM GKI. Kami adalah sayap organisasi yang terjun langsung ke masyarakat, mirip OKP, namun berakar pada nilai-nilai Injil,” jelas Sroyer.
Sementara itu, Sofian Korwa, Direktur Operasional Hotel Nirmala Beach sekaligus Ketua Panitia Retreat FGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan aset ini merupakan respons strategis terhadap fenomena sosial kontemporer.
“Jika ekonomi pemuda tidak dikelola, risiko penyimpangan sosial meningkat. Karena itu, kami dorong mereka tidak hanya menunggu pekerjaan, tapi menciptakan lapangan kerja sendiri,” ujarnya.
Rencana pengembangan ini akan diresmikan setelah pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) FGM GKI di Tanah Papua pada 15 Mei 2026 di Kantor Sinode, Jayapura. Retreat dan konsolidasi tingkat kabupaten akan dilaksanakan satu minggu pasca-pelantikan, sebagai langkah awal implementasi program kerja FGM di wilayah Biak-Supiori.
Pdt. Mofu menegaskan bahwa rotasi pelayan jemaat—yang menjadi kewenangan Badan Pekerja Klasis—harus mempertimbangkan masukan jemaat dan dampak pelayanan, bukan hanya pertimbangan administratif. Aturan internal GKI menetapkan masa tugas maksimal 5 tahun untuk rotasi dan 10 tahun untuk mutasi antar klasis, namun fleksibilitas tetap diberikan demi kepentingan pelayanan yang lebih luas.
Kehadiran Sinode dalam proses perencanaan ini menunjukkan dukungan politik-gerejawi terhadap otonomi organisasi pemuda, sekaligus memperkuat prinsip partisipasi aktif jemaat dalam tata kelola gereja.
Dengan pendekatan holistik ini, GKI di Tanah Papua menegaskan komitmennya sebagai gereja yang hadir di tengah realitas, bukan hanya sebagai lembaga ibadah, tetapi sebagai mitra strategis pembangunan manusia seutuhnya di Tanah Papua.




