MITRA HUMAS| BIAK NUMFOR, 19 April 2026 – Setelah meneliti laporan pertanggungjawaban Bupati Biak Numfor tahun 2025, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) tak tinggal diam. Wakil Ketua I DPRK, Noak Krey, Sabtu (19/4), menyampaikan lebih dari 20 catatan dan rekomendasi keras yang menyasar langsung titik-titik lemah pemerintahan daerah.
“Ini bukan sekadar formalitas. Ini suara rakyat yang kami sampaikan,” tegas Krey.
Catatan itu bukan hanya angka atau dokumen administratif belaka. Di baliknya, ada keluhan guru yang kekurangan tenaga di pelosok distrik, rumah dinas yang dokumennya tak jelas, dan camat yang jarang terlihat di kantornya—masalah-masalah nyata yang dirasakan warga setiap hari.
Pendidikan: Guru Tak Merata, Anak-anak Jadi Korban
Di sektor pendidikan, DPRK menyoroti ketimpangan distribusi tenaga guru. “Ada sekolah di kampung yang hanya punya satu guru untuk tiga kelas. Sementara di kota, guru berlebih,” ungkap Krey.
Ia mendesak Pemda segera tambah dan meratakan penempatan guru, termasuk di kantor-kantor distrik yang selama ini terabaikan.
Camat Harus Paham Pemerintahan—Bukan Cuma Jabatan
Soal tata kelola pemerintahan, DPRK memberi peringatan tajam: jangan asal tunjuk camat.
“Ke depan, camat yang direkrut harus benar-benar menguasai ilmu pemerintahan. Bukan sekadar kenalan atau bagian dari ‘mainan politik’,” tegasnya.
Lebih dari itu, para kepala distrik diminta aktif di wilayahnya, bukan hanya muncul saat acara seremonial. “Rakyat butuh pelayanan, bukan pejabat yang cuma foto-foto,” sindirnya.
Aset Daerah: Jangan Sampai Tanah Rakyat Jadi Milik Kantor
Salah satu catatan paling sensitif menyangkut aset tidak bergerak, khususnya perumahan dinas. DPRK mencatat, banyak bangunan dan lahan milik pemerintah tidak memiliki dokumen kepemilikan yang jelas—seperti sertifikat tanah atau IMB.
“Sudah ada masyarakat yang mempertanyakan: ‘Tanah itu dulu milik nenek moyang kami. Kenapa sekarang jadi kantor?’” kata Krey.
Ia meminta Pemda segera inventarisasi dan lengkapi semua dokumen aset, sebelum konflik sosial melebar. “Jangan main-main dengan tanah. Itu harga diri orang Biak,” tambahnya.






