“Babe Oser Jadi Fondasi: Yendidori Luncurkan Kepemimpinan Kampung Baru untuk Pembangunan”

Avatar photo

MITRA HUMAS | BIAK NUMFOR, 22 April 2026 – Pemerintahan di tingkat akar rumput memasuki babak baru setelah seluruh kampung di Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor, menyelesaikan proses serah terima jabatan (sertijab) secara resmi pada Selasa (22/4). Sebanyak 19 Kepala Kampung definitif terpilih kini resmi memegang kendali pemerintahan, menggantikan posisi Penjabat (PJ) yang sebelumnya mengemban tugas transisi.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan operasional dari pelantikan serentak 249 Kepala Kampung Kabupaten Biak Numfor yang dilaksanakan oleh Bupati pada 17 April 2026 lalu, menandai stabilitas struktur kepemimpinan di wilayah tersebut.

Kepala Distrik Yendidori, Mesak Mandowen, S.Pd., M.Pd., dalam keterangannya kepada media menyampaikan apresiasi mendalam atas kelancaran transisi ini. Ia menyoroti kinerja para PJ yang telah menjalankan amanah selama kurang lebih dua tahun, hingga terselenggaranya proses demokrasi pemilihan kepala kampung yang menghasilkan pemimpin definitif.

Hari ini menjadi sejarah baru di mana 100 persen kampung di Yendidori telah memiliki pemimpin yang sah secara hukum dan legitimasi politik. Mereka siap menjalankan roda pemerintahan penuh mulai besok,” ujar Mandowen dengan tegas.

Peralihan Kewenangan dan Penataan Aparatur

Dengan berakhirnya masa tugas PJ, seluruh kewenangan eksekutif, termasuk manajemen administrasi dan penyusunan perangkat kampung, kini beralih sepenuhnya kepada pemimpin terpilih. Mandowen menekankan pentingnya pembentukan tim kerja yang solid, profesional, dan memiliki dedikasi tinggi untuk mendukung visi pembangunan periode 2026–2034.

“Kepala Kampung yang baru harus mampu merekrut sumber daya manusia yang berkompeten, berintegritas, dan siap bekerja keras mewujudkan kemajuan bersama,” tegasnya.

Potensi Wilayah dan Peran Strategis

Secara geografis dan ekonomis, Distrik Yendidori memiliki posisi vital sebagai salah satu wilayah penyangga utama di Kabupaten Biak Numfor. Wilayah ini memiliki keunggulan komparatif pada tiga sektor utama: pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Khususnya di sektor agraris, Yendidori dikenal sebagai lumbung pangan atau “dapur” yang menghasilkan berbagai komoditas sayuran dan umbi-umbian. Hasil bumi ini tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi pasokan strategis bagi program Masyarakat Berkebun Gotong Royong (MBG) serta pusat perdagangan seperti Pasar Darfuar dan Pasar Impres.

“Kontribusi Yendidori sangat besar dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan di tingkat kabupaten. Oleh karena itu, pengelolaan potensi ini harus dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sinergi dan Nilai Budaya “BABE OSER”

Keberhasilan pembangunan ke depan, menurut Mandowen, sangat ditentukan oleh harmonisasi kebijakan dan kerja sama yang solid. Diperlukan sinergi vertikal antara pemerintah kampung dengan distrik, maupun keselarasan horizontal dengan visi-misi Pemerintah Kabupaten di bawah kepemimpinan Bupati Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., dan Wakil Bupati Jimmy C.R. Kapisa Rumbarar.

Lebih dari sekadar administrasi, ia mengajak seluruh pemimpin untuk menanamkan nilai luhur budaya “BABE OSER”—yang bermakna kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas—sebagai jiwa dari setiap program pembangunan.

“Filosofi Babe Oser harus menjadi pondasi. Siapa pun yang memimpin, harus bekerja dalam semangat kekeluargaan. Hanya dengan persatuan, potensi besar Yendidori dapat digali dan dinikmati bersama oleh masyarakat,” ujarnya.

Mengingat masa jabatan yang berlangsung selama delapan tahun, yang merupakan periode terpanjang dalam sejarah pemerintahan kampung di Papua, Mandowen mengingatkan bahwa amanah ini menuntut konsistensi, inovasi, dan pelayanan yang prima kepada rakyat.

Proses sertijab ini bukan sekadar pergantian personel, melainkan titik tolak revitalisasi tata kelola pemerintahan yang diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan di kabupaten Biak Numfor.

Penulis: Anis RumaropenEditor: Redaksi