Musrenbang 2027 Digelar di Ujung Biak, Kadistrik Bondifuar: “Kami Tak Lagi Sekadar Dilihat—Tapi Dirasakan”

Avatar photo

BONDIFUAR, 15 April 2026 – MITRA HUMAS.COM|Di tepi Pantai Isumbre, Kampung Sansundi, Distrik Bondifuar, hamparan pasir putih menjadi saksi langka: forum strategis penyusunan APBD 2027—Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kabupaten—digelar jauh dari pusat kota, tepat di wilayah paling ujung daratan Biak Numfor. Langkah ini bukan sekadar simbolik, melainkan isyarat politik kuat: pembangunan kini benar-benar menyentuh daerah terpencil.

Alfred Roy Rumaropen, S.Sos., M.M., Kepala Distrik Bondifuar, menyambut kehadiran Bupati Markus Oktovianus Mansnembra, Wakil Bupati Jimmy Carter Rumbarar Kapisa, Sekretaris Daerah, dan seluruh pimpinan OPD dengan rasa syukur mendalam.

“Kami, atas nama masyarakat lima kampung di Bondifuar, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah,” ujar Rumaropen saat ditemui di lokasi acara, Rabu (15/4).

Ia menegaskan, Musrenbang kali ini bukan ritual administratif belaka. Ini adalah puncak dari proses partisipatif yang dimulai dari tingkat kampung, kelurahan, hingga distrik—lalu difinalisasi dalam Pramusrembang selama tiga hari di Galeri Bappeda.

“Hari ini, program prioritas ditetapkan untuk direalisasikan di 2027. Dan yang paling penting: kami tak lagi hanya dilihat—tapi dirasakan,” tegasnya.

Dari Janji ke Kenyataan: Dua Tahun yang Berubah

Bondifuar, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Supiori, selama puluhan tahun kerap dianggap “daerah lupa”. Namun dua tahun terakhir membawa angin segar. Masyarakat mulai merasakan manfaat nyata di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi mikro, kesejahteraan sosial, hingga infrastruktur dasar.

“Dulu kami hanya mendengar janji. Sekarang, kami merasakan pelayanan,” ucap Rumaropen dengan nada lega.

Untuk 2027, Distrik Bondifuar telah mengusulkan sejumlah program prioritas yang lahir langsung dari aspirasi warga. Meski tak merinci satu per satu, ia menekankan bahwa usulan itu bukan hasil rapat elit, melainkan suara dari balik dapur, kebun, dan perahu nelayan.

Musrembang Jadi Panggung Ekonomi Rakyat

Yang tak kalah menarik, pelaksanaan Musrembang di Pantai Isumbre langsung memicu efek domino ekonomi mikro. Stan UMKM lokal bermunculan: ikan asap, sagu bakar, kue tradisional, tikar anyaman, hingga ukiran adat laris manis dibeli peserta musyawarah.

“Pemilik hak ulayat tempat ini juga merasa dihargai. Mereka mendapat penghasilan langsung dari kegiatan ini,” ungkap Rumaropen.

Baginya, inilah wujud nyata pembangunan inklusif: ketika acara besar digelar di kampung, manfaatnya tak hanya dinikmati pejabat atau kontraktor, tapi juga ibu-ibu penjual kue, nelayan, dan pemilik tanah adat.

Harapan: Jangan Biarkan Momentum Ini Padam

Meski bersyukur, Rumaropen berharap sentuhan pembangunan tak berhenti sampai di 2027. “Kami mohon komitmen ini terus ditingkatkan. Bondifuar memang jauh, tapi kami bagian utuh dari Biak Numfor,” pungkasnya.

Dengan menggelar Musrenbang di wilayah perbatasan seperti Bondifuar, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor tampaknya ingin mengubur narasi lama tentang “daerah pinggiran”.

Dan bagi warga Bondifuar, itu bukan lagi retorika politik—tapi kenyataan yang mereka rasakan, satu program demi satu program, satu harapan demi satu harapan yang mulai terwujud.

Penulis: Anis RumaropenEditor: Redaksi